RAHMAT

Archive for the ‘Pencak Silat’ Category

Pencak Silat adalah seni beladiri asli Indonesia yang luar biasa jumlahnya.
Hampir setiap daerah dan suku bangsa di Indonesia mempunyai cri khas masing-masing.
Mungkin kita sering mendengar :
- Cikalong
- Cimande
- Cingkrik
- Silek Kumanggo
- Silek Bayang
- dll

Buku Pencak Silat Merentang Waktu

Posted by romansah pada Juli 23, 2008

Sebuah buku berkualitas tentang Pencak Silat yang sangat jarang kita temui karya Pendekar Oong Maryono, Pesilat Indonesia yang merupakan seorang juara baik di tingkat nasional maupun internasional.

From Back Cover:

“Usaha Sdr. O’ong Maryono untuk menyusun suatu buku tentang perkembangan pencak silat di Indonesia patut mendapat penghargaan tersendiri….Paparan yang terintegrasi ini memberikan peluang pemahaman yang lebih baik dan menyeluruh tentang pencak silat dalam berbagai aspeknya. O’ong Maryono di samping membahas aspek kesejarahan pencak silat juga membahas aspek permasalahan masa kini dari pencak silat. Dengan kata lain: pencak silat dalam retrospek dan prospek… Saya sungguh berharap buku ini akan mendapat khalayak pembaca yang luas, serta tanggapan kritis yang ‘ramai’ dan berbobot sehingga secara keseluruhan wacana pencak silat kita menjadi semakin bermutu.”
Edi Sedyawati
Direktur Jenderal Kebudayaan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

“Buku ini sangat unik. Unik dalam arti harfiah: tidak ada duanya. Inilah suatu kenyataan yang cukup mengherankan: pencak silat sering disebut-sebut dalam berbagai konteks, bahkan sebuah jenis kesusasteraan khusus dan satu kategori* filem menceritakan kisah kapahlawanan para pendekarnya. Namun belum pernah seorang penulis berusaha mengumpulkan informasi yang menyeluruh tentang ‘seni belå diri’ ini. Oleh karena itu, buku O’ong Maryono ini boleh dikatakan tanpa tandingan. Dan di sini letak keunikannya yang kedua: buku yang bersifat ensiklopedis ini tidak ditulis oleh seorang sarjana dalam kesunyian kamar studinya, tetapi oleh seorang jago silat di tengah keramaian arena pertandingan…”
Henri Chambert-Loir,
Direktur Ecole Francaise D’Extreme-Orient

Posted in Pencak Silat | Dengan kaitkata: | 3 Comments »

Maenpo Cikalong

Posted by romansah pada Juli 21, 2008

Sumber : SilatIndonesia.com

Telah disepakati oleh kalangan tokoh pencak silat bahwa pencipta dan penyebar pertama aliran pencak silat Cikalong adalah R. Jayaperbata yang kemudian berganti nama menjadi R. Haji Ibrahim setelah beliau berziarah ke Tanah Suci. R.H. Ibrahim adalah keturunan bangsawan Cianjur.

Sejarah terbentuknya aliran ini, menurut beberapa sumber dimulai ketika R.H. Ibrahim berguru kepada kakak iparnya sendiri (suami Nyi Raden Hadijah, kakak R.H. Ibrahim) yaitu R. Ateng Alimuddin, seorang saudagar kuda dari Jatinegara. Permainan pencak silat R. Ateng Alimudin sendiri adalah Cimande Kampung Baru. Atas perunjuk R. Ateng Alimudin, R.H. Ibrahim kemudian disarankan untuk melanjutkanpelajarannya pada Bang Ma’ruf, seorang guru pencak silat di Kampung Karet, Tanah Abang, Jakarta.

R.H. Ibrahim yang juga mempunyai usaha jual beli kuda kerap kali pulang pergi antara Cianjur dan
Jakarta. Sewaktu berada di Jakarta, dimanfaatkannya untuk belajar pencak silat dari Bang Ma’ruf. Ketika sedang belajar di Bang Ma’ruf, secara tidak sengaja R.H. Ibrahim berkenalan dengan tetangga Ban Ma’ruf yang bernama Bang Madi, seorang penjual kuda yang berasal dari Pagarruyung, Sumatra Barat. Setelah berkenalan dan akhirnya bersambung tangan, akhirnya diketahui bahwa Bang Madi adalah seorang ahli pencak silat yang sangat tangguh. Sejak saat itu, tanpa sepengetahuan Bang Ma’ruf, R.H. Ibrahim mulai berguru kepada Bang Madi.

Karena R.H. Ibrahim adalah seorang bangsawan yang cukup kaya, maka agar lebih leluasa, Bang Madi langsung didatangkan ke Cianjur untuk mengajar di sana. Segala keperluan hidup untuk keluarganya ditanggung oleh R.H. Ibrahim. Dari Bang Madi diperoleh ilmu permainan rasa,
yaitu sensitivitas atau kepekaan rasa yang positif sehingga pada tingkat tertentu akan mampu membaca segala gerak lawan saat anggota badan bersentuhan dengan anggota badan lawan, serta segera melumpukannya.

Menurut beberapa tokoh, salah satu ciri atau kebiasaan dari Bang Madi adalah mahir
dalam melakukan teknik “bendung” atau menahan munculnya tenaga lawan, di samping “mendahului tenaga dengan tenaga”. Di kalangan aliran Cikalong teknik ini disebut “puhu tanaga” atau “puhu gerak”.

Setelah dianggap mahir, atas petunjuk Bang Madi, R.H. Ibrahim disarankan untuk menemui seorang
tokoh dari Kampung Benteng, Tangerang yang bernama Bang Kari. Sebelum diterama menjadi murid, R.H. Ibrahim sempat dicoba dahulu kemampuannya. Bang Kari pun kemudian mengetahui bahwa yang datang kali ini adalah orang yang sangat berbakat dan mempunyai masa depan yang cemerlang di dunia persilatan.

Dari Bang Kari, R.H. Ibrahim mendapatkan (ulin peupeuhan) ilmu pukulan yang mengandalkan
kecepatan gerak dan tenaga ledak. Selain dari keempat tokoh pencak silat dia tas, R. H. Ibrahim banyak berguru pada tokoh-tokoh lain. Ada yang mengatakan sampai tujuh belas orang guru, bahkan ada juga yang mengatakan lebih dari empat puluh orang guru. Dari hasil berguru tersebut kemudian R.H. Ibrahim melakukan perenungan selama tiga tahun dengan cara sering berkhalwat di sebuah gua di kampung Jelebud, di pinggir sungai Cikundul Leutik, Cikalong Kulon, Cianjur. Dari Sinilah mulai terbentuk cikal bakal aliran Cikalong.

Nama aliran Cikalong diberikan oleh para pengikutnya dengan mengambil nama tempat
tinggal R.H. Ibrahim atau tempat mulaialiran pencak silat ini disebarkan. Pada mulanya aliran ini melalui tahapan atau proses tertentu yang masih berubah-ubah dari waktu ke waktu sebelum ditemukan bentuk yang baku. Di samping cara R.H. Ibrahim mengajar selalu disesuaikan
dengan keadaan badan, bakat, serta kesenangan murid.

Maka tidaklah mengherankan apabila banyak murid-murid R.H. Ibrahim yang mempunya permainan yang berbeda satu sama lain. R.H. Tamidi misalnya, menyukai ameng peupeuhan atau permainan yang banyak mengandalkan pukulan; R. Obing yang lebih senang menggunakan ulin rasa atau ulin tempelan yang mengandalkan kehalusan rasa; R. Muhyidin lebih sering menggunakan usik puhu yang selalu mendahului gerak lawan. Sedangkan R. Idrus lebih menyukai usik tungtung yang melakukan serangan balik ketika serangan lawan suda habis, dan masih banyak lagi lainnya.

Yang menarik adalah pada saat yang sama di Cianjur juga terdapat seorang tokoh pencak silat bernama Muhammad Kosim asal Pagarruyung yang tinggal di Kampung Sabandar Cianjur (lebih terkenal dengan panggilan Mama Sabandar). Ia mengajarkan ilmunya kepada beberapa
bangsawan Cianjur, yang juga merupakan murid R.H. Ibrahim, di antaranya adalah R.H. Enoh, sehingga pada Perkembangan selanjutnya di Cianjur terdapat aliran Cikalong –Sabandar. R.H. Ibrahim sendiri tidak pernah berguru kepada Mama Sabandar. Menurut beberapa sumber, mereka pernah bertemu dan bertanding di Purwakarta dan hasilnya tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, namun masingmasing saling mengakui kehebatan lawannya.

Silsilah Leluhur RD. Haji Ibrahim

  • Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar I (Kanjeng Dalem Cikundul)
    Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar II (Kanjeng Dalem Tarikolot)
    Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar III (Kanjeng Dalem Dicondre)
    Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar IV (Kanjeng Dalem Sabirudin)
    Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar V (Kanjeng Dalem Muhyidin)
    Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar VI (Kanjeng Dalem Dipati Enoh)
    Rd. Wiranagara (Aria Cikalong)
    Rd. Rajadireja (Aom Raja) Cikalong
    Rd. Jayaperbata (Rd. Haji Ibrahim)

Salah satu ciri aliran Sabandar adalah mahir dalam mengalirkan tenaga, yang dalam kalangan pencak silat dikenal dengan istilah liliwatan, coplosan atau kocoran. Perkembangan aliran Cikalong pada awalnya tidak begitu pesat. Ini disebabkan beberapa hal. Di antaranya R.H. Ibrahim sangat selektif dalam memilih muridnya, diduga karena adanya kekhawatiran adanya penyalahgunaan ilmu pencak silat yang dapat membahayakan itu.

Di samping itu, sebagai seorang keturunan bangsawan yang tidak membutuhkan tambahan biaya hidup dari murid-muridnya, dengan sendirinya ia dapat memilih-milih muridmuridnya.
Hanya mereka yang disukainya atau yang dianggap akan menjaga nama baik keluarganya dan aliran pencak silatnya saja dapat menjadi muridnya. Maka dapat dipahami, jika murid-muridnya
kebanyakan berasal dari kalangan bangsawan, yaitu kelompok masyarakat dari mana R.H. Ibrahim sendiri dilahirkan.

Walaupun saat ini aliran Cikalong tidak seeksklusif pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya, namun pengaruh dari kondisi sosiologis yang menjadi penunjang di masa-masa awal itu masih membekas sampai sekarang. Walaupun di kemudian hari diramalkan pengaruh ini akan semakin menipis, sehingga masyarakat umum akhirnya akan menjadi pemilik aliran pencak silat ini.

Beberapa penerus aliran ini adalah R.H. Enoh, R. Brata, R. Obong Ibrahim, R. Didi, R.O. Soleh, dan lain-lain. Terdorong oleh rasa tanggung jawab serta menghindarkan terkuburnya aliran pencak silat ini karena meninggalnya atau akan meninggalnya para tokoh atau ahli pencak silat Cikalong yang saat ini masih hidup, juga untuk melestarikan aliran pencak silat ini, Abdur Rauf sebagai salah seorang keturunan langsung dan pimpinan Paguron Maenpo Raden Haji Ibrahim Djaja Perbata Cikalong, membuat suatu tulisan singkat mengenai “Sedikit Perkenalan Dengan Kaedah-kaedah Pokok Maenpo Cikalong. Aliran pencak silat (tepatnya pecahan aliran) yang dipengaruhi aliran Cikalong antara lain adalah aliran Cikaret dan Sanalika.

Sedangkan perguruan yang mempelajari aliran ini di antaranya adalah Paguron Pusaka Cikalong (PPC) Cianjur, Paguron Pusaka Siliwangi, dan hamper semua perguruan pencak silat di jawa barat mendapat pengaruh aliran ini.

R. Abad Moh. Sirod yang mendapat ilmu dari R. Busrin mengembangkan metode belajar pencak silat
dengan menyusun 30 jurus dasar yang dikenal dengan istilah 27 jurus kajadian dan 3 jurus maksud.
Jurus-jurus ini diambil dari kejadian maenpo (istilah lain untuk beladiri pencak silat). Penjelesan selengkapnya disusun dalam buku yang berjudul Tuduh Kaedah Meanpo (Petunjuk Kaidah Pencak Silat).

R. Obing yang belajar dari R.H. Ibrahim dan R. H. Enoh mengembangkan 5 jurus dasar yang
menggunakan langkah dengan arah menyerong, mempelajari cara menyimpan dan memindahkan titik berat badan, serta menggabungkan gerak dengan teknik pernapasan.

R.O. Saleh (Gan Uweh) yang belajar dari R. Idrus dan R. Muhyidin mengembangkan 10 jurus dasar, 3 pancer, jurus 7, dan masagikeun (kombinasi). Perguruan yang didirikannya adalah Paguron Pusaka Cikalong (PPC).

R. Ateng Karta yang berasal dari Banyuresmi, Garut belajar dari R. Utuk mengembangkan 5 jurus dasar beserta beberapa pecahannya. Perguruan yang didirikannya adalah Perguruan Pencak Silat Sanalika.

Dari beberapa contoh di atas dapat dilihat bahwa aliran pencak silat Cikalong berkembang dari generasi ke generasi berikutnya. Ada yang mengembangkannya di perguruan yang didirikannya dan ada pula yang tidak malalui perguruan (Individu). (GR)

Di cuplik dari Majalah Beladiri JURUS No. 01 Tahun I – 21 Juni – 04 Juli 1999

Posted in Pencak Silat | Dengan kaitkata: | 4 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.